Mantan aktris JAV Aya Takanashi membantah anggapan bahwa bekerja di industri video dewasa Jepang merupakan cara mudah mendapatkan penghasilan tinggi. Ia mengungkap proses produksi dapat membuat seorang aktris berada di lokasi syuting setidaknya 12 jam, bahkan dalam kondisi tertentu mencapai sekitar 20 jam.
Pengakuan tersebut disampaikan Aya Takanashi melalui kolom terbarunya di Nikkan SPA! yang terbit Jumat, 28 Agustus 2026. Mantan aktris yang kini bekerja sebagai penulis itu menilai banyak orang hanya melihat pendapatan dan popularitas tanpa mengetahui tekanan di balik industri JAV.
Takanashi mengatakan dirinya masih kerap mendengar komentar yang menggambarkan aktris JAV hanya perlu tampil di depan kamera, mendapat perhatian, kemudian memperoleh bayaran tinggi. Menurut dia, gambaran tersebut jauh berbeda dengan kenyataan yang ditemuinya selama aktif di industri.
Ia bahkan menggambarkan karakter pekerjaan tersebut mendekati apa yang di Jepang kerap disebut sebagai kondisi kerja “black”, istilah untuk lingkungan kerja yang sangat berat. Durasi panjang, tekanan produksi, tuntutan fisik dan mental, hingga persaingan menjadi bagian yang tidak banyak terlihat publik.
Aya Takanashi Ungkap Syuting Bisa Tembus 20 Jam
Menurut Aya Takanashi, produksi untuk karya eksklusif maupun solo dapat membuat seorang aktris berada di lokasi selama minimal sekitar 12 jam. Durasi tersebut bukan batas maksimal karena proses produksi tertentu bisa berlangsung jauh lebih panjang hingga mendekati 20 jam.
Pernyataan mengenai panjangnya waktu produksi bukan pertama kali disampaikan Takanashi. Dalam tulisan sebelumnya di Nikkan SPA!, ia juga pernah mengungkap pekerjaan untuk produksi solo dapat membuat pemain berada di lokasi lebih dari 12 jam ketika terjadi kendala teknis atau perubahan proses produksi.
Durasi panjang itu tidak berarti kamera terus merekam sepanjang waktu. Pergantian lokasi, persiapan rambut dan riasan, pengecekan kontrak, penataan peralatan, hingga waktu menunggu menjadi bagian dari keseluruhan pekerjaan seorang aktris di lokasi produksi.
Situasi tersebut, menurut Takanashi, membuat anggapan bahwa pekerjaan di industri JAV dapat diselesaikan hanya dalam beberapa jam menjadi tidak tepat. Bahkan proses menunggu yang terlihat sederhana dapat menguras energi ketika produksi berlangsung sepanjang hari.
Para pemain juga menghadapi tuntutan untuk menjaga penampilan dan kondisi fisik selama proses tersebut. Stamina menjadi kebutuhan penting karena jadwal produksi tidak selalu dapat dihentikan hanya karena seorang pemain mulai mengalami kelelahan.
Tidak Cukup Hanya Mengandalkan Penampilan
Takanashi menilai penampilan fisik saja tidak cukup untuk bertahan dalam industri JAV karena pemain dituntut memiliki sejumlah kemampuan sekaligus. Mereka membutuhkan stamina, kemampuan tampil di depan banyak orang, komunikasi, konsentrasi, serta ketahanan mental menghadapi tekanan produksi.
Di lokasi syuting, pemain tidak hanya berhadapan dengan kamera tetapi juga bekerja bersama sutradara, kru teknis, penata rias, manajer, dan pemain lainnya. Kondisi tersebut membuat kemampuan beradaptasi dengan banyak orang menjadi bagian penting dalam pekerjaan.
Tekanan semakin besar karena jadwal produksi harus berjalan sesuai rencana sehingga pemain dituntut dapat menjalankan arahan secara efektif. Kesalahan maupun pengulangan berkali-kali dapat membuat jadwal semakin panjang dan memengaruhi seluruh kru yang berada di lokasi.
Tokyo Reporter, yang mengulas kolom tersebut pada 30 Agustus 2026, menyebut Takanashi menekankan kombinasi kemampuan komunikasi, performa, stamina, penampilan, serta mental kuat sebagai modal untuk bertahan. Ia menilai pekerjaan tersebut membutuhkan kemampuan multitugas yang cukup tinggi.
Tiga Kali Syuting, Masa Toleransi Pemain Baru Berakhir
Persaingan menjadi tekanan lain yang disoroti Aya Takanashi. Menurut pengalamannya, toleransi terhadap pemain yang masih berstatus pendatang baru berlangsung relatif singkat sebelum tuntutan profesional mulai diberlakukan secara penuh.
Setelah sekitar tiga kali menjalani produksi, pemain disebut tidak lagi dapat terus mengandalkan status sebagai pendatang baru apabila melakukan kesalahan. Mereka mulai dituntut memahami ritme pekerjaan sekaligus mampu mengikuti kebutuhan produksi dengan lebih cepat.
Bahkan seorang pemain yang mampu bertahan sekitar enam bulan dapat dianggap sudah cukup berpengalaman dalam industri tersebut. Cepatnya perputaran pemain membuat standar adaptasi menjadi tinggi karena wajah-wajah baru terus bermunculan.
Takanashi menggambarkan situasi tersebut sebagai bentuk persaingan ketat untuk bertahan. Pemain yang kesulitan memenuhi kebutuhan produksi berisiko kehilangan kesempatan ketika terdapat banyak pendatang baru yang siap mengambil tempat mereka.
Kondisi itu menjadi alasan mengapa penghasilan tinggi tidak otomatis berarti pekerjaan dapat dilakukan dengan mudah. Dibutuhkan kemampuan untuk menjaga performa secara konsisten dalam industri yang memiliki tingkat pergantian pemain relatif cepat.
Popularitas Tak Membuat Pemain Bebas Bertindak
Aya Takanashi juga menepis gambaran bahwa pemain populer dapat melakukan apa pun sesuai keinginannya di lokasi produksi. Menurut dia, popularitas justru tidak menghilangkan tuntutan profesional untuk menjaga hubungan dengan orang-orang yang terlibat dalam produksi.
Pemain harus mampu bekerja sama dengan sesama pemeran, staf produksi, manajemen, hingga pihak perusahaan. Mereka yang memiliki karakter pendiam sekalipun tetap harus berusaha berkomunikasi ketika bekerja di lingkungan yang melibatkan banyak orang.
Dalam kolomnya, Takanashi menjelaskan kemampuan membaca situasi menjadi penting karena kelancaran produksi bergantung pada kerja sama seluruh pihak. Pemain yang sulit bekerja sama dapat meninggalkan kesan negatif bagi kru dan memengaruhi peluang memperoleh pekerjaan berikutnya.
Ia juga menyoroti kebiasaan pemain membangun komunikasi dengan rekan kerja, termasuk berbincang dan berinteraksi setelah berada di lokasi. Kemampuan sosial menjadi modal yang tidak kalah penting dibandingkan kemampuan tampil ketika kamera mulai merekam.
Karena itu, menjadi terkenal tidak otomatis memberikan kebebasan penuh terhadap seorang pemain. Sebaliknya, semakin sering mendapatkan pekerjaan, semakin besar pula kebutuhan mempertahankan reputasi profesional di antara perusahaan produksi dan kru.
Media Sosial Tambah Beban Kerja
Tuntutan terhadap aktris JAV modern juga tidak berhenti setelah proses syuting selesai. Takanashi mengatakan pemain sekarang harus tetap aktif mengelola media sosial untuk menjaga eksistensi dan membangun hubungan dengan penggemar.
Aktivitas tersebut dapat dilakukan di luar pekerjaan produksi dan tidak selalu menghasilkan pembayaran langsung. Meski demikian, media sosial telah menjadi salah satu instrumen penting untuk mempertahankan popularitas di tengah banyaknya pemain yang bersaing mendapatkan perhatian.
Pemain dengan jadwal produksi padat karena itu masih harus menyisihkan energi untuk mengunggah konten, memberikan informasi aktivitas, dan mempertahankan interaksi dengan pengikut. Beban tersebut membuat batas antara pekerjaan produksi dan aktivitas promosi semakin tipis.
Takanashi menilai tuntutan tersebut menunjukkan bahwa pemain membutuhkan disiplin kerja tinggi, kondisi tubuh prima, serta mental kuat. Mereka harus menjalankan beberapa fungsi sekaligus untuk dapat mempertahankan karier di industri yang sangat bergantung kepada popularitas.
Aya Takanashi Kini Jadi Penulis
Aya Takanashi memiliki pengalaman langsung sebelum banyak menulis mengenai sisi lain industri JAV. Berdasarkan profilnya di Nikkan SPA!, ia memulai karier sebagai aktris pada 2016 sebelum memutuskan pensiun pada pertengahan 2018 setelah sekitar dua setengah tahun bekerja.
Setelah meninggalkan industri tersebut, Takanashi sempat bekerja sebagai penulis skenario untuk permainan sosial sebelum beralih menjadi pekerja lepas. Saat ini ia menulis kolom web, ulasan karya, hingga berbagai skenario dan proyek penulisan lainnya.
Pengalamannya setelah berpindah profesi justru membuat Takanashi kembali menilai tingginya tuntutan terhadap pemain yang masih aktif. Ia mengakui pekerjaan menulis yang lebih banyak dilakukan sambil duduk membuat ritme profesionalnya berbeda dibandingkan masa ketika harus menghadapi banyak orang di lokasi.
Takanashi bahkan mengatakan dirinya kini merasa perlu mempelajari kembali disiplin dan mentalitas yang dimiliki para pemain sukses. Menurut dia, kemampuan mempertahankan kondisi fisik, menghadapi jadwal padat, dan tetap profesional merupakan kemampuan yang tidak dapat dianggap sederhana.
Pernyataan Aya Takanashi tersebut sekaligus memberikan gambaran berbeda mengenai industri JAV yang selama ini sering dilihat publik hanya berdasarkan popularitas dan pendapatan pemain. Di balik layar, ia menegaskan terdapat jam kerja panjang, persaingan, tuntutan komunikasi, promosi mandiri, serta tekanan fisik dan mental.
Bagi Takanashi, mereka yang mampu bertahan bukan sekadar orang yang datang untuk mencari penghasilan cepat. Industri tersebut justru menuntut kemampuan adaptasi, daya tahan, kerja sama, dan disiplin profesional yang menurutnya tidak dapat dijalankan oleh sembarang orang.










Leave a Reply